Renungan Nasehat Kematian Bagian Empat Puluh Enam
- account_circle kowpi.official@gmail.com
- calendar_month 24/06/2026
- visibility 11
- comment 0 komentar
- label Renungan Kematian
SU’UL KHATIMAH: KEADAAN YANG PALING DITAKUTI ORANG-ORANG SHALIH
Di antara perkara yang paling mengkhawatirkan bagi seorang mukmin adalah bagaimana akhir kehidupannya. Sebab, keselamatan seseorang tidak hanya diukur dari banyaknya amal yang pernah ia lakukan, tetapi juga bagaimana ia menutup kehidupannya di dunia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya seorang hamba mengerjakan suatu amalan yang menurut pandangan manusia merupakan amalan penghuni surga, padahal ia termasuk penghuni neraka. Dan terkadang seseorang mengerjakan suatu amalan yang menurut pandangan manusia merupakan amalan penghuni neraka, padahal ia termasuk penghuni surga. Sesungguhnya amalan itu tergantung pada penutupnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits yang agung ini mengajarkan kepada kita agar tidak tertipu oleh penampilan lahiriah seseorang, termasuk diri kita sendiri. Yang menjadi perhatian utama adalah keadaan seorang hamba ketika menghadap Allah Ta’ala.
Ibnu Baththal rahimahullah menjelaskan bahwa Allah menyembunyikan akhir kehidupan manusia sebagai bentuk hikmah yang sangat besar. Seandainya seseorang mengetahui bahwa dirinya akan selamat, ia mungkin akan menjadi malas dan merasa aman. Sebaliknya, jika ia mengetahui dirinya akan binasa, bisa jadi ia semakin tenggelam dalam kesombongan dan keputusasaan. Oleh karena itu, Allah menjadikan seorang mukmin hidup di antara rasa takut dan harap.
Inilah sebabnya para ulama salaf memiliki rasa takut yang sangat besar terhadap su’ul khatimah. Mereka tidak pernah merasa aman dari fitnah yang dapat menimpa hati menjelang kematian.
Diriwayatkan bahwa Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Tidaklah seseorang merasa aman dari tercabutnya iman ketika kematian, kecuali iman itu benar-benar terancam tercabut darinya.”
Ketika Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah menjelang wafat, beliau menangis. Ada yang bertanya, “Apakah engkau menangis karena banyaknya dosa?” Beliau menjawab, “Bukan. Aku takut jika imanku dicabut sebelum kematianku.”
Perkataan mereka menunjukkan betapa besarnya perhatian para salaf terhadap keselamatan iman hingga akhir hayat.
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa termasuk bentuk pemahaman agama yang mendalam adalah seseorang merasa takut terhadap dosa-dosa yang dapat memperdayanya saat kematian dan menghalanginya dari husnul khatimah.
Al-Hafizh Abdul Haq Al-Isybili rahimahullah menjelaskan bahwa su’ul khatimah memiliki sebab-sebab yang harus diwaspadai. Di antaranya adalah terlalu tenggelam dalam urusan dunia, berlebihan dalam mengejar harta, lalai dari mengingat akhirat, serta berani melakukan kemaksiatan tanpa rasa takut kepada Allah.
Ketika seseorang terus-menerus hidup dalam dosa, lalu dosa tersebut menguasai hati dan pikirannya, maka dikhawatirkan kematian datang saat ia masih berada dalam keadaan itu. Akibatnya, dosa yang selama ini menjadi kebiasaannya akan mendominasi dirinya ketika sakaratul maut.
Para ulama juga menjelaskan bahwa su’ul khatimah tidak lazim menimpa orang yang lahiriahnya istiqamah di atas agama dan batinnya baik. Sebaliknya, ia lebih sering menimpa orang yang rusak akidahnya, terbiasa melakukan dosa besar, serta berani bermaksiat hingga kematian menjemputnya sebelum sempat bertaubat.
Terkadang tanda-tanda su’ul khatimah tampak ketika seseorang menghadapi sakaratul maut. Sebagian orang sulit mengucapkan syahadat, sebagian yang lain justru menyebut perkara dunia yang selama ini memenuhi hatinya, atau menunjukkan ketidaksenangan terhadap ketentuan Allah yang sedang menimpanya.
Ibnul Qayyim rahimahullah mengingatkan bahwa banyak orang yang terhalang dari husnul khatimah karena akibat buruk dari amal perbuatannya sendiri. Sedangkan Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan bahwa sering kali penyebab su’ul khatimah berasal dari dosa-dosa tersembunyi yang tidak diketahui manusia.
Sebaliknya, bisa jadi ada seseorang yang tampak memiliki banyak kekurangan di hadapan manusia, namun di dalam hatinya terdapat keikhlasan, ketakwaan, dan kebaikan yang tersembunyi. Ketika menjelang wafat, Allah menampakkan kebaikan tersebut sehingga ia mendapatkan husnul khatimah.
Oleh sebab itu, seorang mukmin hendaknya senantiasa memperhatikan keadaan hatinya. Jangan hanya sibuk memperbaiki penampilan lahiriah, tetapi lalai memperbaiki keikhlasan, tauhid, dan hubungan dengan Allah Ta’ala.
Marilah kita memperbanyak taubat, menjauhi dosa, menjaga keikhlasan, memperbaiki akidah, dan terus memohon kepada Allah agar diberikan keteguhan hati hingga akhir hayat.
Semoga Allah Ta’ala mengaruniakan kepada kita husnul khatimah, mengampuni dosa-dosa kita, dan melindungi kita dari segala sebab yang dapat mengantarkan kepada su’ul khatimah.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُسْنَ الْخَاتِمَةِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ سُوءِ الْخَاتِمَةِ
“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu husnul khatimah dan berlindung kepada-Mu dari su’ul khatimah.”
✒️ *𝑬𝒅𝒊𝒕𝒐𝒓 : 𝑨𝒅𝒎𝒊𝒏* kowpi.id
📡 𝐑𝐚𝐢𝐡 𝐚𝐦𝐚𝐥 𝐬𝐡𝐚𝐥𝐢𝐡 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐞𝐛𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐢𝐫𝐢𝐦𝐚𝐧 𝐢𝐧𝐢 , 𝐬𝐞𝐦𝐨𝐠𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐦𝐚𝐧𝐟𝐚𝐚𝐭.
- ═══════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═══════•
🖋️📖 _*KOWPI (Komunitas Waris Planning Indonesia)*_ 📖🖋️

Saat ini belum ada komentar