Beranda » Renungan Kematian » Nasehat Renungan Kematian Bagian Tiga Puluh Delapan

Nasehat Renungan Kematian Bagian Tiga Puluh Delapan

Segera Beramal Sebelum Ajal Datang

Dunia Jangan Sampai Melalaikan Kita

Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia bukan sekadar untuk mengumpulkan harta, membangun usaha, atau mengejar berbagai kenikmatan dunia. Tujuan utama kehidupan adalah beribadah kepada-Nya dan mempersiapkan bekal menuju akhirat.

Karena itu Allah Azza wa Jalla memperingatkan kaum beriman:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.”
(QS. Al-Munafiqun: 9)

Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan dzikrullah dalam ayat ini adalah seluruh bentuk ketaatan kepada Allah. Seseorang bisa saja memiliki kekayaan yang melimpah, keluarga yang besar, dan berbagai kesibukan duniawi, namun semuanya berubah menjadi musibah apabila menyebabkan dirinya lalai dari shalat, dzikir, membaca Al-Qur’an, menuntut ilmu, dan berbagai amal ketaatan lainnya.

Kerugian yang disebutkan dalam ayat ini adalah kerugian yang sesungguhnya, yaitu ketika seseorang menukar kenikmatan akhirat yang abadi dengan kesenangan dunia yang fana dan sementara.

Teladan Orang-Orang Saleh

Allah memuji hamba-hamba-Nya yang tidak terlalaikan oleh aktivitas dunia. Allah Ta’ala berfirman:

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat dan menunaikan zakat.”
(QS. An-Nur: 37)

Mereka tetap bekerja, berdagang, dan mencari nafkah. Namun hati mereka tetap terikat dengan Allah. Ketika panggilan shalat datang, mereka mendahulukan perintah Rabb mereka daripada keuntungan dunia.

Inilah keseimbangan yang diajarkan Islam: bekerja untuk dunia tanpa melupakan akhirat.

Berinfak Sebelum Datang Penyesalan

Setelah memperingatkan manusia agar tidak lalai oleh dunia, Allah memerintahkan mereka untuk berinfak sebelum datangnya kematian.

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: ‘Ya Rabbku, sekiranya Engkau menangguhkan kematianku sedikit waktu lagi, niscaya aku akan bersedekah dan termasuk orang-orang yang saleh’.”
(QS. Al-Munafiqun: 10)

Ayat ini menunjukkan pentingnya memanfaatkan kesempatan hidup untuk beramal. Ketika seseorang berada di ambang kematian, ia menyadari bahwa harta yang selama ini dikumpulkan tidak lagi mampu menolongnya. Yang tersisa hanyalah amal yang pernah ia persembahkan untuk Allah.

Karena itu Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa sedekah yang paling besar pahalanya adalah sedekah yang diberikan saat seseorang masih sehat, masih memiliki keinginan terhadap harta, dan masih berharap masa depan yang panjang.

Beliau ﷺ bersabda:

“Engkau bersedekah ketika engkau masih sehat, masih merasa berat mengeluarkan harta, takut miskin, dan berharap menjadi kaya.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Inilah saat terbaik untuk beramal, yaitu ketika kesempatan masih terbuka dan jiwa masih memiliki kecenderungan kepada dunia.

Ajal Tidak Bisa Ditunda

Di penghujung surat Al-Munafiqun, Allah menutup peringatan ini dengan firman-Nya:

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang ajalnya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Munafiqun: 11)

Ketika ajal tiba, tidak ada penundaan walau sesaat. Tidak ada kesempatan kedua untuk memperbaiki shalat yang ditinggalkan, sedekah yang ditunda, atau taubat yang diabaikan.

Karena itu para ulama mengambil pelajaran besar dari ayat ini, yaitu kewajiban menyegerakan berbagai amal kebaikan ketika kesempatan masih ada. Termasuk di dalamnya menyegerakan zakat, menunaikan hak-hak manusia, memperbanyak sedekah, dan menjalankan seluruh kewajiban yang telah Allah perintahkan.

Renungan Penutup

Kita tidak mengetahui berapa lama usia yang masih tersisa. Mungkin hari ini kita masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, tetapi esok belum tentu.

Maka marilah kita menjaga kemurnian tauhid, memperbaiki shalat, memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, berbakti kepada orang tua, menunaikan hak sesama muslim, memperbanyak sedekah, dan meninggalkan berbagai bentuk maksiat.

Jangan menunggu waktu luang untuk beramal, karena waktu luang belum tentu datang. Jangan menunggu masa tua untuk bertaubat, karena usia tua belum tentu kita jumpai.

Beramallah hari ini, sebelum datang hari ketika seseorang hanya bisa berkata:

“Ya Rabbku, sekiranya Engkau memberi aku kesempatan sedikit lagi…”

Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang memanfaatkan umur untuk ketaatan dan mengakhiri kehidupan dengan husnul khatimah.

Wallahu a’lam bish-shawab.

✒️ *𝑬𝒅𝒊𝒕𝒐𝒓 : 𝑨𝒅𝒎𝒊𝒏* kowpi.id

📡 𝐑𝐚𝐢𝐡 𝐚𝐦𝐚𝐥 𝐬𝐡𝐚𝐥𝐢𝐡 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐞𝐛𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐢𝐫𝐢𝐦𝐚𝐧 𝐢𝐧𝐢 , 𝐬𝐞𝐦𝐨𝐠𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐦𝐚𝐧𝐟𝐚𝐚𝐭.

  • ═══════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═══════•

🖋️📖 _*KOWPI (Komunitas Waris Planning Indonesia)*_  📖🖋️

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less