Nasehat Renungan Kematian Bagian Tujuh Belas
- account_circle kowpi.official@gmail.com
- calendar_month 18/05/2026
- visibility 12
- comment 0 komentar
- label Renungan Kematian
MENGETAHUI NILAI DUNIA DAN KEFANAANNYA
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, serta orang-orang yang mengikuti petunjuk mereka dengan baik hingga hari kiamat.
Kehidupan dunia sering kali memperdaya manusia dengan keindahannya. Manusia memandang harta, jabatan, ketenaran, dan berbagai kenikmatan dunia sebagai tujuan terbesar dalam hidupnya. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan hakikat dunia yang sesungguhnya: ia hanya sementara, berubah, dan pasti akan berakhir.
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan berilah perumpamaan kepada mereka tentang kehidupan dunia seperti air hujan yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuh-tumbuhan di bumi menjadi subur karenanya, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan angin. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(QS. Al-Kahfi: 45)
Ayat yang mulia ini menggambarkan bagaimana dunia pada awalnya tampak indah, menghijau, dan menenangkan hati. Namun sebagaimana tumbuhan yang akhirnya mengering dan hilang diterbangkan angin, demikian pula kehidupan dunia akan berakhir.
Karena itu Allah mengingatkan:
“Wahai manusia, sesungguhnya janji Allah itu benar, maka janganlah kehidupan dunia memperdayakan kalian…”
(QS. Fathir: 5)
Rasulullah ﷺ mengarahkan hati umatnya agar tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Beliau bersabda:
“Ya Allah, tidak ada kehidupan yang sesungguhnya kecuali kehidupan akhirat.”
(Muttafaq ‘alaih)
Saudaraku, ketika seorang manusia meninggal dunia, semua yang dahulu dibanggakannya akan mulai terpisah darinya. Nabi ﷺ bersabda:
“Ada tiga perkara yang mengikuti mayit: keluarganya, hartanya, dan amalnya. Dua akan kembali dan satu tetap bersamanya. Keluarga dan hartanya kembali, sedangkan amalnya tetap bersamanya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Maka yang akan menemani seorang hamba di alam kuburnya bukanlah banyaknya tabungan, luasnya rumah, ataupun tingginya kedudukan. Yang tetap bersamanya hanyalah amal shalih yang dahulu dia kerjakan dengan ikhlas karena Allah.
Bahkan Rasulullah ﷺ pernah menunjukkan betapa rendahnya nilai dunia di sisi Allah. Beliau melihat bangkai seekor anak kambing, lalu bersabda:
“Demi Allah, sungguh dunia lebih hina di sisi Allah dibandingkan bangkai ini di mata kalian.”
(HR. Muslim)
Demikian pula sabda beliau ﷺ:
“Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.”
(HR. Muslim)
Maknanya bukan bahwa seorang mukmin tidak boleh menikmati nikmat yang halal, namun seorang mukmin membatasi dirinya dari perkara yang dimurkai Allah. Ia menahan hawa nafsunya, bersabar dalam ketaatan, dan mempersiapkan dirinya menuju kehidupan yang kekal.
Maka hendaknya seorang muslim menjadikan dunia sebagai sarana menuju akhirat, bukan tujuan akhir kehidupannya. Dunia berada di tangannya, tetapi tidak memenuhi hatinya.
Semoga Allah Ta’ala menjadikan hati kita zuhud terhadap dunia, mencintai akhirat, dan mengaruniakan kepada kita husnul khatimah.
Wallahu a’lam.
✒️ *𝑬𝒅𝒊𝒕𝒐𝒓 : 𝑨𝒅𝒎𝒊𝒏* kowpi.id
📡 𝐑𝐚𝐢𝐡 𝐚𝐦𝐚𝐥 𝐬𝐡𝐚𝐥𝐢𝐡 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐞𝐛𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐢𝐫𝐢𝐦𝐚𝐧 𝐢𝐧𝐢 , 𝐬𝐞𝐦𝐨𝐠𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐦𝐚𝐧𝐟𝐚𝐚𝐭.
- ═══════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═══════•
🖋️📖 _*KOWPI (Komunitas Waris Planning Indonesia)*_ 📖🖋️

Saat ini belum ada komentar